Kamis, 11 Oktober 2012


Kolusi Sebuah Kejahatan
            Di dalam kitab Bidayatul Hidayah, karangan Imam Al-Ghazali (hal 3), termuat dalam hadist Nabi Muhamad ”Siapa yang tolong menolong dalam hal kemaksiatan, walaupun hanya sepotong kata, maka orang itu telah bersekongkol/kolusi didalam ke maksiatan itu”
            Persekongkolan/kolusi didalam suatu hal yang membudaya. Ini sangat sulit bagi siapapun untuk dapat memberantas budaya ini. Apabila persengkokolan/kolusi ini dilakukan untuk sebuah kemaslahatan/kebaikan, tentu ini sangat diharapkan bagi yang memiliki hati nurani. Namun, apabila persekongkolan dilakukan untuk sebuah kejahatan/kemaksiatan, pada akhirnya menjadi boomerang bagi pelaku dan masyarakat sekitarnya.

            Seseorang yang didukung, dipilih, atau dibela untuk memangku jabatan tertentu, kemudian orang itu berbuat tidak adil, zalim, menyimpang, dan melanggar syariat Allah SWT. Maka pendukung/pemilih/pembela itu harus mengingat bahkan bila perlu mencabut dukungan dan pembelaanya. Jika ini tidak dilakukan, maka sesungguhnya ia sama-sama telah berdosa di hadapan Allah SWT, sebab dengan memberikan dukungan berarti pula telah meridhai/merestui ketidakbenarannya, kesewenang-wenangnya.
            Sebuah kemaksiatan, apakah itu diskotik, café, tempat perjuadian, tempat pelacur, ataupun perusahaan minuman keras yang dibangun dan dioperasikan, maka orang-orang yang terkait memiliki tanggung jawab dan dosa yang sama. Baik pemberi izin, penada tangan, dan pekerjanya. Bukan itu orang yang menerima uang dari tempat-tempat itupun hukumnya haram.
            Apabila kita mengahadapi kasus kemungkaran sebagaimana diatas, minimal hati nurani kita harus menolak. Namun, jika ada kemampuan untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya, itu lebih baik. Apalagi kalau kita memiliki keberanian dan kemampuan untuk memberantasnya, sungguh ini sangat mulia dihadapan Allah SWT.
Memberantas kemaksiatan memang sulit dapat berhasil kalau hanya dengan kata-kata. Apalagi hanya dengan ketidaksetujuan hati. Bukankah sudah bertahun-tahun para habib, ulama  kiai dan ustad menentang kemungkaran dan kemaksiatan? Mana hasilnya?
            Tempat kemaksiatan bukannya berkurang malah makin bertambah, kezaliman dan ketidakadilan bukanya semakin langka malah makin merajarela. Ini dapat di temukan dari tingkat desa samapai kota. Dari petani sampai mentri, dari kopral sampai jendral, dari orang emperan sampai orang DPR-an, dari kepala desa sampai kepala Negara, dari santri sampai kiai. Na’udzibillahi min dzalik
            Rupanya istilah yang mengatakan : “Buat apa kita membunuh dengan mengetok ekornya. Tidak akan mati. Kalau mau membunuh ular getok kepalanya” sejalan dengan itu pula Rasulullah SAW telah bersabda:
“Siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah/memberantas dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya (hatinya menolak, ingkar terhadap kemaksiatan). Dan itulah selemah-lemahnya iman” (HR Muslim)

0 komentar:

Posting Komentar

Categories

Labels

Blogger templates