Kolusi Sebuah Kejahatan
Di
dalam kitab Bidayatul Hidayah, karangan
Imam Al-Ghazali (hal 3), termuat dalam hadist Nabi Muhamad ”Siapa yang tolong menolong dalam hal kemaksiatan, walaupun hanya
sepotong kata, maka orang itu telah bersekongkol/kolusi didalam ke maksiatan
itu”
Persekongkolan/kolusi
didalam suatu hal yang membudaya. Ini sangat sulit bagi siapapun untuk dapat
memberantas budaya ini. Apabila persengkokolan/kolusi ini dilakukan untuk
sebuah kemaslahatan/kebaikan, tentu ini sangat diharapkan bagi yang memiliki
hati nurani. Namun, apabila persekongkolan dilakukan untuk sebuah
kejahatan/kemaksiatan, pada akhirnya menjadi boomerang bagi pelaku dan
masyarakat sekitarnya.
Seseorang
yang didukung, dipilih, atau dibela untuk memangku jabatan tertentu, kemudian
orang itu berbuat tidak adil, zalim, menyimpang, dan melanggar syariat Allah
SWT. Maka pendukung/pemilih/pembela itu harus mengingat bahkan bila perlu
mencabut dukungan dan pembelaanya. Jika ini tidak dilakukan, maka sesungguhnya
ia sama-sama telah berdosa di hadapan Allah SWT, sebab dengan memberikan
dukungan berarti pula telah meridhai/merestui ketidakbenarannya,
kesewenang-wenangnya.
Sebuah
kemaksiatan, apakah itu diskotik, café, tempat perjuadian, tempat pelacur,
ataupun perusahaan minuman keras yang dibangun dan dioperasikan, maka
orang-orang yang terkait memiliki tanggung jawab dan dosa yang sama. Baik
pemberi izin, penada tangan, dan pekerjanya. Bukan itu orang yang menerima uang
dari tempat-tempat itupun hukumnya haram.
Apabila
kita mengahadapi kasus kemungkaran sebagaimana diatas, minimal hati nurani kita
harus menolak. Namun, jika ada kemampuan untuk mengungkapkan
ketidaksetujuannya, itu lebih baik. Apalagi kalau kita memiliki keberanian dan
kemampuan untuk memberantasnya, sungguh ini sangat mulia dihadapan Allah SWT.
Memberantas kemaksiatan memang
sulit dapat berhasil kalau hanya dengan kata-kata. Apalagi hanya dengan
ketidaksetujuan hati. Bukankah sudah bertahun-tahun para habib, ulama kiai dan ustad menentang kemungkaran dan kemaksiatan?
Mana hasilnya?
Tempat
kemaksiatan bukannya berkurang malah makin bertambah, kezaliman dan
ketidakadilan bukanya semakin langka malah makin merajarela. Ini dapat di
temukan dari tingkat desa samapai kota. Dari petani sampai mentri, dari kopral
sampai jendral, dari orang emperan sampai orang DPR-an, dari kepala desa sampai
kepala Negara, dari santri sampai kiai. Na’udzibillahi
min dzalik
Rupanya
istilah yang mengatakan : “Buat apa kita membunuh dengan mengetok ekornya.
Tidak akan mati. Kalau mau membunuh ular getok kepalanya” sejalan dengan itu
pula Rasulullah SAW telah bersabda:
“Siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah/memberantas dengan
tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu,
maka dengan hatinya (hatinya menolak, ingkar terhadap kemaksiatan). Dan itulah
selemah-lemahnya iman” (HR Muslim)
0 komentar:
Posting Komentar